Hello there. Test link

Bahasa Jawa dengan Berbagai Macam Dialek Daerah yang Beragam

bahasa jawa

Ragam Bahasa Jawa

Bahasa Jawa menjadi bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia dengan lebih dari 80 juta orang penutur. Suku Jawa sebagai penuturnya mendiami pulau Jawa dari bagian tengah sampai ke ujung timur. Meski demikian, masih bisa ditemui beberapa dialek jawa di sebagian wilayah Jawa Barat dan Banten yang didominasi orang Sunda. 
Bahasa Jawa juga berkembang di luar pulau Jawa karena dibawa oleh orang Jawa yang merantau. Banyak ditemukan orang Jawa di Sumatera, Kalimantan, dan pulau-pulau lain di Indonesia. Bahkan persebaran Bahasa Jawa turut merambah mancanegara seperti di Malaysia, Singapura, Suriname, Belanda, dll. 
Selain penuturnya yang banyak, variasi dialek Bahasa Jawa pun sangat beragam. Dialek merupakan bahasa sekelompok masyarakat yang tinggal di suatu daerah tertentu. Biasanya dialek tercipta karena kesamaan sejarah dan interaksi antara satu daerah dengan daerah lain. Perbedaan dialek di dalam sebuah bahasa ditentukan oleh letak geografis atau region kelompok pemakainya. Oleh sebab itu dialek disebut dialek geografis atau dialek regional. Dialek yang satu dengan dialek yang lain umumnya dibatasi oleh alam seperti sungai, gunung, laut, hutan, dan semacamnya.

Persebaran

peta suku pulau jawa
Bahasa Jawa (basa Jawa) tergolong ke dalam rumpun bahasa Austronesian, bahasa ibu bagi lebih dari 40 persen penduduk dari populasi masyarakat Indonesia, tersebar hampir di seluruh penjuru Nusantara. Sensus pada tahun 1980 menunjukan, bahasa Jawa digunakan di Yogyakarta oleh 97,6% dari populasi penduduk, di Jawa Tengah (96,9%), di Jawa Timur (74,5%), di Lampung (62%), di Sumatera Utara (21%), di Sumatera Utara (17%), di Bengkulu (15,4%) di Sumatera Selatan (12,4%), di Jawa Barat (13%), dan dituturkan oleh kurang dari 10% dari populasi penduduk di tempat-tempat lainnya di Indonesia..

Dialek


Mempunyai jumlah penutur yang sangat banyak membuat Bahasa Jawa memiliki sejumlah dialek. Tiap-tiap dialek memiliki ciri khas dan wilayah masing-masing. Dalam satu provinsi pun bisa terdapat beragam dialek. Berikut ragam dialek Bahasa Jawa :

1.) Jawa Kulonan


Dikenal istilah Jawa Kulonan, yang dituturkan di bagian Barat Jawa Tengah dan di sejumlah wilayah Barat Pulau Jawa meliputi:
  1. Dialek Banten Utara (Jawa Serang), yang dituturkan di Serang, Cilegon, dan bagian Barat Tangerang
  2. Dialek Cirebon (Cirebonan atau Basa Cirebon), yang dituturkan di Cirebon dan Losari, Sementara dialek Indramayu (atau Dermayon) yang dituturkan di Indramayu, Karawang, dan Subang, oleh banyak pihak digolongkan ke dalam Cirebonan.
  3. Dialek Tegal (Tegalan atau Dialek Pantura), dituturkan di Tegal, Brebes, dan bagian Barat Kabupaten Pemalang.
  4. Dialek Banyumas (Banyumasan), dituturkan di Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, dan Bumiayu.
Menurut penutur bahasa Jawa lainnya, Dialek Jawa Kulonan ini sering disebut basa ngapak dengan slogannya ora ngapak ora kepenak.

2.) Jawa Tengahan


Selanjutnya terdapat Dialek Jawa Tengahan, yang terutama di bawah pengaruh budaya Mataraman (dialek Surakarta dan dialek Yogyakarta), yang dianggap sebagai standar penulisan dan penggunaan Bahasa Jawa. Berikut sejumlah dialek dalam ‘rumpun’ dialek Jawa Tengahan:
  1. Dialek Pekalongan, yang dituturkan di daerah Pekalongan (kabupaten dan kotamadya), serta di Pemalang.
  2. Dialek Kedu, yang dituturkan di daerah-daerah bekas keresidenan Kedu, yakni Temanggung, Kebumen, Magelang, dan Wonosobo.
  3. Dialek Bagelen, yang dituturkan di Purworejo.
  4. Dialek Semarang, yang dituturkan Semarang (kabupaten dan kota), Salatiga, Demak, dan Kendal.
  5. Dialek Pantai Utara (Muria), dituturkan di Jepara, Rembang, Kudus, Pati, Tuban dan Bojonegoro.
  6. Dialek Blora, dituturkan di Blora, bagian Timur Grobogan dan bagian Barat Ngawi.
  7. Dialek Surakarta, yang dituturkan di Surakarta (Surakarta, Karanganyar, Klaten, Wonogiri, Sukoharjo, Sragen, dan Boyolali).
  8. Dialek Yogyakarta, yang dituturkan di Yogyakarta.
  9. Dialek Madiun, yang dituturkan di Provinsi Jawa Timur, termasuk Madiun, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, dan Magetan. (masih sangat mendapat pengaruh dari gaya Surakarta (Mataraman).
Bahasa Jawa Surakarta-Yogyakarta dijadikan standar baku dalam penulisan dan penggunaan Bahasa Jawa. Dalam dialek inilah undhak-undhuk dan unggah-ungguh berbahasa sangat diperhatikan mulai dari ngoko, madya, dan krama.

3.) Jawa Timuran

Selain Jawa Tengahan dan Jawa Kulonan, dikenal juga istilah Jawa Timuran, yang dituturkan di ujung Timur Pulau Jawa, dari mulai wilayah Sungai Brantas di Kertosono, dan dari Nagnjuk hingga Banyuwangi, yang mencakup provinsi-provinsi di Jawa Timur, kecuali Pulau Madura. Dialek-dialek dalam ‘rumpun’ Jawa Timuran. Yakni:
  1. Dialek Surabaya (Suroboyoan), yang umumnya dituturkan di Surabaya, Gersik, Sidoarjo. Sebagian orang Madura menjadikan dialek ini sebagai ‘bahasa’ kedua setelah bahasa mereka sendiri, Bahasa Madura.
  2. Dialek Malang, yang dituturkan di Malang (kabupaten dan kotamadya), dan juga di Mojokerto. Dialek ini identik dengan membalik susunan pengucapan kata seperti bakso menjadi oskab, Malang menjadi Ngalam, iyo menjadi oyi, mas menjadi sam, dll.
  3. Dialek Jombang, yang dituturkan di Jombang.
  4. Dialek Tengger, yang digunakan oleh orang-orang Tengger di sekitar Gunung Bromo.
  5. Dialek Banyuwangi (Basa Osing), yang dituturkan oleh orang-orang Osing di Banyuwangi.
Selain tiga ‘rumpun’ dialek di atas, selebihnya, terdapat Bahasa Jawa Suriname (Surinamese Javanese). Umumnya dialek Jawa Suriname ini berasal dari Jawa Tengah, terutama keresidenan Kedu.

peta dialek bahasa jawa


Beberapa Contoh Perbedaan Dialek Bahasa Jawa ( Kulonan, Tengahan, Wetanan ) :

Jateng : ning Jatim : ndek Cirebon: ning / nang 
Jateng : montor Jatim : sepeda Cirebon: motor 
Jateng : sepeda Jatim : pit Cirebon: pit 
Jateng : sithik  Jatim : thithik Cirebon: setitik 
Jateng : dhuwur Jatim : dhukur Cirebon: duwur 
Jateng : banget/tenan  Jatim : temen - pisan Cirebon: pisan 
Jateng : ngapusi  Jatim : mbujuki  Cirebon: mbebodoh 
Jateng : warahi  Jatim : muruki  Cirebon: maiweruh 
Jateng : nggatekke  Jatim : ngreken  Cirebon: nganggep


Cirebon
Banyumas
Solo-Yogya
Arekan
Banyuwangi
Indonesia
Kita/isun/reang
Inyong
Aku
Aku
Isun, hun
Aku, saya
Sira
Rika
Kowe
Kon/koen/riko/peno/awakmu
Siro
Kamu
Pisan
Banget
Tenan
Temenan/temen/soro
Kari/temenan
Sangat
Kepriben/kepriwe
Kepriwe
Piye/kepriye
Yok opo
Klendhi
Bagaimana
Ora/beli
Ora
Ora
Gak
Sing
Tidak
Manjing
Mlebu
Mlebu
Mlebu
Mlebu
Masuk
Apa
Apa
Opo
Opo
Paran
Apa
Bobad
Dora
Ngapusi
Mbujuk/Ngapusi
Gubyab
Bohong
Campu
Bodin
Pohong
Pohong
Sawi
Singkong
Ning, nang
Neng
Ning,Ing
Ndik, nang, nok
Ring
Di
Dalan
Gili
Dalan
Embong
Dyalan
Jalan
Maning
Maning
Meneh
Maneh
Maning
Lagi


Dolanan
Dulinan
Memengan
Mainan
Wong
Wong
Wong
Wong
Lare
Orang
Bae
Bae
Wae
Ae
Byaen
Saja


Mari
Waras
Aron
Sembuh
Uwis
Wis
Wis
Wis
Wis
Sudah
Gemuyu
Gemuyu
Ngguyu
Ngguyu
Gemuyu
Tertawa


Kethek
Bedhes
Bojog
Monyet
Kang
Sing
Sing
Sing
Kang, hang
Yang
Dudu
Dudu
Dudu
Gudu
Dudu
Bukan
Bengen
Bengen
Biyen
Biyen
Bengen
Dulu
Delengaken

Benke
Cekno, benno
Makne
Biarkan
Cungur

Irung
Irung/cingur
Irung
Hidung

Dhisit
Dhisik
Dhisik
Sulung
Duluan
Lamun
Angger
Nek, Yen
Lek
Kadung
Kalau
Mangkat
Mangkat
Mangkat
Budhal
Budhal
Berangkat
Melu
Melu
Melu
Melok

Ikut
Umah
Omah
Omah
Omah
Umah
Rumah
Gen
Uga
Uga
Pisan

Juga
Sekiki
Ngesuk
Sesuk
Mene
Mene
Besok
Mengkonon

Ngono
Ngono
Gedigu
Begitu
Kenang apa
Kenang apa
Kenopo
Opo’o
Apuo
Kenapa
Karo

Karo
Ambek
Ambi
Dengan

Dheweke
Dheweke, Dheknen
Dhe’e
Yane
Dia
Embung
Embung
Embuh
Embuh
Embung
Entah
Entek
Entong
Entek
Entek

Habis
Arep
Arep
Arep
Ate/kate
Arep
Akan
Rara
Mbekayu
Mbakyu
Mbak, Ning (Sby)
Mbok
Kakak (pr)
Lanang
Lanang
Lanang
Lanang
Lancing
Lelaki
Wadon
Wadon
Wadon
Wedok
Adon
Perempuan
Kuwe
Kuwe
Kae
Iko

Itu (jauh)
Kari
Gari
Kari
Karek

Tinggal
Sukiki
Siki
Saiki
Saiki
Saiki
Sekarang
Pawon
Pedangan
Pawon
Pawon
Pawon
Dapur

Sapa jere
Mbok menowo
Be’e
Nawi
Barangkali

Peturasan
Kolah
Jeding

Kamar mandi

Ora ilok
Ora ilok
Gak ilok

Pantang

esih
Isih
Sik
Magih
Masih

Nggragas
Nggragas
Nggragas
Nderongos
Rakus

Lampu
Lampu
Lampu
Damar
Lampur

Rampung
Rampung, bar
Mari

Selesai
Esem
Esem
Esem
Esem
Unyik
Senyum
Telembuk
Telembuk
Lonte
Balon, lonte
Senuk
PSK
Sawah
Sawah
Sawah
Sawah
Kedokan
Sawah


Mau
Maeng
Mauko
Tadi


Sirsat
Sirsat, moris
Nongko londo
Sirsak
Blewah
Blewah
Blewah
Blewah, garbis
Blewah
Blewah
Kates
Gandul
Kates
Kates
Kates
Pepaya
Undhak-undhuk
Bahasa Jawa mengenal istilah undhak-undhuk atau aturan tata krama dalam berbahasa, yang mencakup pertimbangan-pertimbangan relasi sosial dan peran sosial para penutur yang terlibat dalam percakapan. Setidaknya, terdapat tiga bentuk undhak-undhuk dalam Bahasa Jawa, yaitu:
  • Ngoko, (Ngaka), yang merupakan bahasa informal, yang umumnya digunakan di antara teman sebaya dan kerabat-kerabat terdekat, serta juga digunakan oleh orang dengan status sosial yang lebih tinggi kepada lawan bicara yang memiliki status sosial yang lebih rendah.
  • Madya, yang berada di antara ngoko dan krama. Jenis ini umumnya digunakan di antara para penutur yang tidak akrab, seperti penanya di jalan di mana satu sama lain tidak mengetahui kelas sosialnya, dan ketika seseorang ingin berbicara tidak terlalu formal dan juga tidak terlalu informal.
  • Krama, yang melupakan gaya paling sopan, yang umumnya digunakan orang-orang dalam status sosial sederajat ketika ingin menghindari gaya infrormal, atau digunakan oleh kalangan dengan status sosial yang lebih rendah kepada lawan bicaranya yang berasal dari golongan sosial yang lebih tinggi, termasuk dari yang lebih muda terhadap yang lebih tua.

Hello there

Post a Comment

© alfisbu. All rights reserved. Diutak-atik oleh Alfisbu